Header Ads

Bung Hatta: Proklamator Kemerdekaan Indonesia

Mohammad Hatta


Mohammad Hatta dilahirkan di Bukittinggi, kota yang terletak di kaki gunung Merapi dan Singgalang, pada 12 Agustus 1902. Sebagaimana panggilan umum pada masa perjuangan kemerdekaan ia lebih akrab disapa Bung Hatta. Perannya bukan cuma sebatas salah seorang Proklamator Kemerdekaan Indonesia dan Wakil Presiden pertama Republik Indonesia. Lebih dari itu Bung Hatta juga diakui sebagai perumus beberapa pasal Undang-undang Dasar 1945, konseptor ekonomi kerakyatan dan koperasi Indonesia.

Sejak berumur delapan bulan, ayahnya yang bernama Haji Muhammad Djamil meninggal dunia dalam usia 30 tahun. Dari garis keturunan ayahnya Hatta berasal dari keluarga ulama di Batuhampar, terletak 16 kilometer dari Bukittinggi. Meski demikian ayahnya lebih banyak aktif dalam bidang usaha.
Bahkan kakeknya, Syaikh Abdurrahman, yang juga dikenal dengan sebutan syaikh nan tuo, memimpin Surau (semacam pondok pesantren dimasa sekarang) Batuhampar yang cukup dikenal dan menjadi pusat pengajian tarikat (naqsyabandi).

Pada pertengahan abad ke 19 Bukittinggi menjadi kota tujuan santri dari berbagai penjuru tanah air dan Semenanjung Malaya yang ingin memperdalam ilmu agama.
Sementara pihak ibunya, Siti Saleha, dikenal sebagai keluarga yang banyak bergerak dalam usaha perdagangan. Kakeknya (ayah dari ibunya), Ilyas gelar Bagindo Marah, mempunyai hubungan dagang sampai ke Sawahlunto dan Lubuk Sikaping, yang juga menyelenggarakan hubungan kuda pos antara Bukittinggi dan Lubuk Sikaping tiga kali seminggu.

Sepeninggalan Muhammad Djamil, ibunya menikah kembali dengan Mas Agus Haji Ning, seorang pedagang asal Palembang. Hubungan Hatta dengan ayah tirinya ini sangat dekat sampai-sampai ia mengira Haji Ning adalah ayah kandungnya. Namun meski akhirnya Hatta mengetahui Haji Ning adalah ayah tirinya pada usia 10 tahun, hal itu tidak merenggangkan hubungan keduanya.

Masa kecil Hatta dilalui sebagaimana lazimnya anak-anak pada masa itu di kampung halamannya ; bermain, sekolah dan mengaji. Ia hanya belajar dua tahun di Sekolah Rakyat di Bukittinggi sampai pindah ke Europese Lagere School (ELS -sekolah dasar untuk orang Eropa) di kota yang sama dan kemudian pindah ke ELS Padang mulai kelas 5 sampai 7.

Setamat ELS tahun 1917, Hatta bermaksud melanjutkan ke Hogere Burger School (HBS -sekolah menengah Belanda selama lima tahun). Namun karena HBS hanya ada di Jakartadan ibunya keberatan putranya yang baru berusia 14-15 tahun itu untuk pindah, Hatta beralih sekolah ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs -sekolah menengah pertama) Padang.

Sejak sekolah di Bukittinggi itu Hatta mulai belajar bahasa Inggris dan Perancis secara privat. Disamping itu, Hatta juga berguru agama kepada guru-guru yang berpandangan luas dan maju. Haji Muhammad Djamil Djambek mengajarnya selama di Bukittinggi, sedang Haji Abdullah Ahmad mulai mengasuh Hatta setelah sekolah di MULO Padang.

Sejak di MULO, Hatta sudah aktif dalam kegiatan Jong Sumatranen Bond (JBS -Perkumpulan Pemuda Sumatra) sebagai bendahara, dan setahun kemudian merangkap sekretaris dan bendahara JBS cabang Padang.

Sejak itulah kesadaran bermasyarakat dan politik Hatta tumbuh dan berkembang, terutama lewat pertemuan dan pergaulannya dengan sejumlah tokoh seperti Sutan Said Ali (tokoh lokal yang kemudian dibuang ke Digul) dan Abdoel Moeis (dari Sarekat Islam Jakarta).
Setamat MULO tahun 1919, akhirnya Hatta pindah juga ke Jakarta melanjutkan ke Prins Hendrik Handels School (Sekolah Dagang Prins Hendrik). Hatta menyelesaikan sekolah ini dengan prestasi ranking ketiga tahun 1921.

Tentu saja selain belajar, Hatta juga semakin intensif bergaul dengan sejumlah tokoh pergerakan nasional, seperti Haji Agus Salim dan Abdoel Moeis. Dalam posisinya sebagai bendahara JBS tingkat pusat, Hatta juga rutin menemui tokoh-tokoh terkemuka asal Sumatera yang memberi dukungan dana kepada JBS, seperti Landjumin Datuk Tumenggung dan Sutan Muhammad Zain.
Dikutip dari : Deliar Nper, Mohammad Hatta Biografi Politik, Jakarta, LP3ES, 1990

Lamaran Bung Hatta melalui Bung Karno
Suatu jamuan makan malam diadakan dai tempat kediaman Mr. Sartono di Jatinegara, Jakarta. Mr. Sartono adalah salah satu dari keempat pangacara dalam kasus pembelaan Ir. Soekarno dan kawan-kawan. Pada malam itu beliau memberikan kesempatan kepada sahabat-sahabat terdekat Bung Karno untuk mengucapkan selamat kepada Bung Karno yang baru saja pulang dari Bengkulu, tempat pembuangan yang terakhir.

Kami suami isteri (red. Keluarga Ny. S.S.A. Rachim - ibu dari isteri Bung Hatta) juga hadir, dengan membawa kedua anak kami, Rahmi, 17 tahun dan Raharty, 14 tahun. Ramah tamah berjalan dengan gembira dan santai. Bung Hatta-pun ada di situ.

Pada suatu hari Bung Karno datang ke rumah kami (red. Keluarga Ny. S.S.A. Rachim), beliau bertanya kepada saya (red. Ny. S.S.A. Rachim), "Gadis mana yang tercantik di Bandung ini?" Saya kemudian menyebut beberapa orang.

Olek, putri cantik Ibu Dewi Sartika; Meta, putri dokter Sam Joedo yang terkenal di Bandung; atau Mieke, juga kerabat dokter itu. Saya bertanya, "Kenapa? Ada apa Mas tanya-tanya tentang gadis-gadis cantik?" Bung Karno menjawab, "Ah tidak apa-apa. Tanya-tanya 'kan tidak salah?"Beberapa waktu kemudian sesudah kemerdekaan, Bung Karno datang kembali ke rumah saya pada malam hari, kali ini bersama sahabat karibnya, dr. Soeharto.

"Begini, " kata Bung Karno, "Saya mau melamar."
"Melamar siapa ?"
"Melamar Rahmi", jawabnya.
"Untuk siapa?"
"Untuk teman saya, Hatta".

Siapa yang tidak terkejut mendengar lamaran tiba-tiba itu. Saya menganggap bahwa perbedaan usia Rahmi dengan Bung Hatta terlalu jauh. Lagipula Hatta adalah seorang tokoh besar. Tetapi saya mengatakan, "Mas Karno, mengenai soal lamaran ini, saya harus menanyakan kepada anak saya dulu. Dia sudah berusia 19 tahun, sehingga sudah saya anggap dewasa untuk memutuskan jalan hidupnya"."Siapa yang datang, Mam?" tanya Yuke (nama panggilan Rahmi) ketika saya masuk kamar tidurnya.

"Bung Karno. Dia datang untuk melamar buat kamu."
"Buat saya? Mahasiswa sinting mana yang mau melamar saya?"
"Ini bukan mahasiswa ! Dia orang baik, Mohammad Hatta!"
Sang adik, Titi (Raharty, adik ibu Rahmi), menyeletuk, "Jangan mau, Yu, sudah tua!"
Yuke juga masih ragu-ragu sehingga saya ajak dia untuk bertemu sendiri dengan Mas Karno.
"Oom, saya merasa takut".
"Takut apa?"
"Saya ini orang bodoh, dia terlalu pandai".Bung Karno melanjutkan, antara lain mengatakan, "Tidak apa-apa, pokoknya dia orang baik, dia pemimpin yang baik, dan dia sahabat saya yang baik. Kamu tidak akan kecewa sebab Hatta adalah orang yang berbudi luhur, dan mempunyai prinsip yang tegas.Demikianlah akhirnya Rahmi menentukan keputusannya, setuju menerima lamaran Hatta. Maka bukan saya dan ayahnya yang menentukan, karena perkawinan dijalani oleh pasangan yang bersangkutan. Bung Hatta memang bertekad, takkan menikah sebelum Indonesia merdeka, biarpun sudah jauh-jauh hari Bung Karno mulai memikirkan jodoh baginya.

(Sumber: Editor: Iman Toto K. Rahardjo, Herdianto WK: Bung Karno, Bapakku,
Guruku, Sahabatku, Pemimpinku - Kenangan 100 Tahun Bung Karno, PT Gramedia
Widiasarana Indonesia, Jakarta 2001)

Bung Hatta Sebagai Ilmuwan
Bung Hatta rajin menulis di majalah perjuangan mahasiswa Indonesia di Negeri Belanda, dan secara teratur mengirimkan pula karangannya untuk dimuat di majalah-majalah perjuangan yang terbit di Indonesia. Melalui tulisan-tulisan di dalam dasawarsa 1920-an inilah gagasan-gagasan Bung Hatta dapat dibaca oleh pemuda pejuang di Tanah Air, termasuk oleh Bung Karno, yang merupakan tokoh pejuang muda di Tanah Air saat itu, sebelum mereka berkenalan langsung.

Walaupum bidang studinya ekonomi, Bung Hatta juga mempelajari dan menulis artikel-artikel tentang hukum, tata egara dan politik. Pada dasawarsa 1920-an itu, Bung Hatta bersama rekan-rekan mahasiswa Indonesia lainnya sesama anggota "Perhimpunan Indonesia" giat mempopulerkan nama Indonesia dan gagasan tentang kemerdekaan, baik di Negeri Belanda sendiri maupun di negara-negara Eropa lainnya, melalui partisipasi mereka pada sejumlah kongres-kongres di Belgia, Swiss, Perancis, dan lain-lain, yang diadakan para pemuda Asia-Afrika yang sedang belajar di Eropa.

Sebagai proklamator, Bung Karno dan Bung Hatta sepaham bahwa "mencerdaskan kehidupan bangsa" adalah mencapai kehidupan yang cerdas bagi bangsa, artinya bukan sekedar cerdas otak, melainkan hidup yang cerdas alias bermartabat. Kaum intelegensia sekalipun, jika mudah diatur oleh kemauan kekuatan asing, tidak cerdas hidupnya.


Dikutip dari facebook AE

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.